You are currently viewing Dosen UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Perkuat Jejaring Diaspora pada Muktamar IMSA–MISG 2025 di Amerika Serikat

Dosen UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Perkuat Jejaring Diaspora pada Muktamar IMSA–MISG 2025 di Amerika Serikat

UINFASBengkulu — Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu, M. Arif Rahman Hakim, Ph.D, menghadiri Muktamar Indonesian Muslim Society in America (IMSA)–Malaysian Islamic Study Group (MISG) Tahun 2025 yang diselenggarakan di Hilton Hotel, Atlanta, Georgia, pada 23–27 Desember 2025. Forum internasional ini diikuti ratusan peserta dari berbagai negara bagian di Amerika Serikat dan Kanada, yang terdiri atas akademisi, mahasiswa, profesional, komunitas Muslim, hingga pelaku UMKM diaspora.

Muktamar IMSA–MISG merupakan agenda tahunan yang telah berlangsung lebih dari dua dekade dan menjadi wadah konsolidasi komunitas Muslim Indonesia dan Malaysia di Amerika Serikat. Forum ini berfungsi sebagai ruang penguatan jejaring dakwah, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan, sekaligus menegaskan peran diaspora Indonesia sebagai bridge community yang menghubungkan nilai-nilai keislaman, identitas kebangsaan, dan posisi umat Islam dalam percakapan global.

Rangkaian kegiatan muktamar meliputi seminar dan diskusi tematik yang menghadirkan pembicara dari berbagai negara. Topik yang dibahas antara lain dakwah Islam di tengah masyarakat minoritas, pendidikan keluarga dan parenting, penguatan sumber daya generasi muda, serta isu-isu sosial keagamaan kontemporer. Selain itu, muktamar juga diramaikan dengan pertunjukan budaya, bazar komunitas diaspora, kegiatan sosial, serta kelas-kelas keagamaan yang disesuaikan dengan kelompok usia dan minat, termasuk untuk pemuda dan anak-anak.

Pada kegiatan tersebut, M. Arif Rahman Hakim, Ph.D hadir mewakili kalangan akademisi Muslim dari Ohio State University dan UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. Ia menegaskan bahwa kehadirannya merupakan bagian dari upaya membuka ruang dialog akademik lintas negara sekaligus memperkenalkan kontribusi perguruan tinggi Islam Indonesia dalam ekosistem pendidikan global.

“Kehadiran kami dalam forum ini bukan hanya sebagai peserta, tetapi sebagai representasi akademisi yang membawa misi intelektual dan dakwah. Dalam diskusi dengan New Muslims Circle, misalnya, kami membahas kebutuhan pendampingan bagi para mualaf di Amerika. Ini membuka peluang keterlibatan dosen dan mahasiswa UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu sebagai mentor. Pada intinya, kami ingin menunjukkan bahwa perguruan tinggi Islam Indonesia memiliki kontribusi, perspektif, dan gagasan yang relevan dalam percakapan global,” ujarnya.

Lebih lanjut, Arif menyampaikan harapan terbukanya peluang kolaborasi pascamuktamar, khususnya dalam penguatan jejaring kemitraan antara IMSA dan UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu.

“Forum ini diharapkan dapat menjadi pintu masuk kerja sama akademik yang lebih konkret, seperti kuliah tamu internasional daring bersama akademisi diaspora, riset kolaboratif terkait pendidikan Islam di masyarakat multikultural, hingga pertukaran pengalaman dan pendampingan mahasiswa melalui jaringan komunitas IMSA,” tambahnya.

Ia juga menyoroti potensi pengembangan platform pembelajaran internasional yang melibatkan mahasiswa UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, antara lain melalui program Collaborative Online International Learning (COIL), riset bersama, forum praktik baik parenting dan dakwah komunitas diaspora, serta program mentorship dari akademisi Indonesia yang berkiprah di universitas-universitas Amerika.

“Harapannya, jalinan ini tidak berhenti pada pertemuan singkat, tetapi berkembang menjadi jejaring yang hidup dan berkelanjutan, serta memberikan manfaat nyata bagi kampus, mahasiswa, dan komunitas diaspora dalam jangka panjang,” tegasnya.

Forum Penguatan Identitas dan Kontribusi Diaspora

Muktamar IMSA–MISG 2025 menunjukkan bahwa komunitas Muslim Indonesia dan Malaysia di Amerika Serikat tidak hanya hadir sebagai kelompok minoritas, tetapi sebagai komunitas yang berdaya, bernilai, dan berkontribusi bagi masyarakat global. Partisipasi akademisi dari Indonesia, termasuk dari UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, menjadi bentuk dukungan moral dan intelektual yang memperkuat ikatan emosional, spiritual, dan kebangsaan dengan diaspora.

Dengan semakin luasnya keterlibatan perguruan tinggi Islam Indonesia dalam forum internasional semacam ini, diharapkan terbangun kolaborasi strategis yang berdampak bagi pengembangan ilmu pengetahuan, dakwah, dan pendidikan Islam, baik di tingkat nasional maupun global.