Yogyakarta — Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu kembali menegaskan komitmennya dalam mewujudkan kampus berkelanjutan berbasis nilai keislaman melalui penandatanganan Piagam Komitmen Implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) pada Lokakarya Nasional UI GreenMetric untuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Tahun 2026. Kegiatan ini diselenggarakan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan menjadi momentum strategis penguatan arah kebijakan kampus hijau di lingkungan PTKIN.

Mengusung tema “Integrasi UI GreenMetric dalam Mewujudkan Kampus Hijau Berbasis Ekoteologi”, lokakarya ini dihadiri oleh 56 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia. UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu diwakili oleh Pusat Lingkungan Hidup LPPM sebagai bagian dari upaya aktif dalam mendorong transformasi kampus menuju keberlanjutan.
Salah satu agenda utama kegiatan ini adalah penandatanganan piagam komitmen bersama oleh pimpinan dan perwakilan perguruan tinggi. Komitmen tersebut menegaskan keseriusan institusi pendidikan tinggi dalam mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam tata kelola kampus melalui pendekatan green campus yang selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan.

Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Noorhaidi, dalam sambutannya menegaskan bahwa isu lingkungan tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan teknis semata, melainkan bagian dari tanggung jawab moral perguruan tinggi.
“Perguruan tinggi harus mengambil peran sebagai pelopor dalam membangun kesadaran ekologis. Pendekatan keagamaan menjadi kekuatan penting dalam menggerakkan perubahan karena menyentuh dimensi nilai dan kesadaran manusia,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI dalam sesi keynote menekankan bahwa konsep ekoteologi menjadi fondasi penting dalam membangun kesadaran lingkungan, khususnya di lingkungan pendidikan tinggi keagamaan.
“Ekoteologi mengajarkan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari praktik keberagamaan. Ketika nilai ini terintegrasi dalam sistem pendidikan, maka keberlanjutan tidak hanya menjadi program, tetapi menjadi kesadaran kolektif,” disampaikan dalam sesi tersebut.
Sementara itu, Kepala UI GreenMetric, Dr. Vishnu Juwono, menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam mendorong transformasi menuju keberlanjutan.
“GreenMetric dirancang sebagai alat evaluasi sekaligus pendorong perubahan. Kampus yang berkomitmen akan menjadikan indikator ini sebagai bagian dari sistem, bukan sekadar laporan,” jelasnya.
Bagi UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, penandatanganan piagam komitmen ini bukan sekadar simbolik, melainkan langkah konkret dalam memperkuat arah kebijakan menuju green campus yang terstruktur dan berkelanjutan.
Kepala Pusat Lingkungan Hidup UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Fadilah, S.Si., M.Si., menyampaikan bahwa momentum ini menjadi penguat gerakan lingkungan berbasis ekoteologi di lingkungan kampus.
“Penandatanganan komitmen ini menjadi titik penting bagi kampus untuk memperkuat gerakan lingkungan, tidak hanya dari sisi teknis pengelolaan, tetapi juga dari sisi nilai bahwa menjaga bumi adalah amanah yang harus diwujudkan dalam kebijakan dan budaya kampus,” ungkapnya.
Partisipasi dalam forum nasional ini sekaligus memperkuat posisi UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu dalam jaringan perguruan tinggi yang berkomitmen terhadap implementasi ekoteologi dan SDGs. Ke depan, komitmen tersebut akan diwujudkan melalui berbagai program strategis, mulai dari pengelolaan lingkungan kampus, penguatan riset, hingga pengabdian kepada masyarakat berbasis keberlanjutan.
Melalui langkah ini, UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu tidak hanya membangun kampus yang hijau secara fisik, tetapi juga menumbuhkan kesadaran ekologis yang berakar pada nilai-nilai keislaman sebagai ikhtiar bersama dalam menjaga bumi.

