UINFASBengkulu – Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu terus memperkuat kiprahnya di tingkat internasional melalui penyelenggaraan International Conference on Islamic Studies, Society, and Humanities (ICISSH) 2026 yang mengusung tema “Reimagining Islamic Knowledge, Social Transformation, and Human Civilization in the Digital Era.” Kegiatan ini berlangsung di Gedung Jamaan Nur UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Rabu (15/7/2026).
Konferensi internasional tersebut menghadirkan dua narasumber terkemuka, yakni Prof. Dr. Melanie Nyof, Ph.D dari Carthage College, Amerika Serikat, serta Dr. Celal Akar, President of Hayrat Foundation Turkiye for Indonesia. Lebih dari 200 peserta yang terdiri atas dosen, mahasiswa, serta sivitas akademika dari berbagai perguruan tinggi di Provinsi Bengkulu mengikuti kegiatan ini.
Turut hadir dalam konferensi tersebut Wakil Rektor III UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Dr. Rahmad Ramdhani, M.Si., Direktur Pascasarjana Prof. Dr. Zubaedi, M.Pd., para dekan, kepala unit, serta pimpinan lembaga di lingkungan UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu.
Direktur Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Prof. Dr. Zubaedi, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa penyelenggaraan ICISSH 2026 merupakan langkah strategis Pascasarjana dalam memperluas jejaring akademik internasional sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan publikasi ilmiah. Menurutnya, kolaborasi dengan akademisi dunia menjadi bagian penting dalam mendorong internasionalisasi perguruan tinggi.

Sementara itu, Wakil Rektor III UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Dr. Rahmad Ramdhani, M.Si., memberikan apresiasi atas terselenggaranya konferensi internasional tersebut. Ia menilai kegiatan seperti ICISSH mampu meningkatkan mutu akademik sekaligus memperkuat reputasi internasional UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu.
Dalam arahannya, Dr. Rahmad juga menyampaikan berbagai program strategis yang menjadi prioritas kepemimpinan Rektor UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu tahun 2027. Program tersebut diarahkan pada penguatan kualitas akademik, peningkatan riset dan publikasi bereputasi internasional, transformasi digital, serta perluasan kerja sama dengan berbagai institusi di dalam maupun luar negeri.
Menanggapi tema konferensi yang mengangkat transformasi sosial dan peradaban di era digital, ia mengibaratkan perkembangan teknologi sebagai mata pisau bermata dua. Di satu sisi, teknologi mampu mempercepat kemajuan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan peradaban. Namun di sisi lain, apabila tidak diiringi dengan nilai-nilai moral, etika, dan spiritual, teknologi juga dapat menghadirkan berbagai dampak negatif bagi kehidupan masyarakat.
Oleh karena itu, ia mengajak seluruh sivitas akademika untuk memanfaatkan perkembangan teknologi secara bijaksana dengan tetap menjadikan nilai-nilai keislaman sebagai fondasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan.



“Kemajuan UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu tidak dapat diwujudkan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi dari seluruh fakultas, unit, dan lembaga agar visi internasionalisasi kampus dapat tercapai secara berkelanjutan,” ujarnya.
Pada sesi utama konferensi, Prof. Dr. Melanie Nyof, Ph.D. membahas berbagai tantangan dan peluang pengembangan studi Islam dalam menghadapi perubahan sosial global, khususnya di era digital yang menuntut pendekatan multidisipliner dan kolaboratif.
Sementara itu, Dr. Celal Akar memaparkan materi bertajuk “Pendekatan Holistik dalam Pendidikan Islam: Konsep Universitas Spiritual dalam Risalah Nur.” Ia menjelaskan bahwa krisis pendidikan modern tidak hanya disebabkan oleh keterbatasan lembaga pendidikan, melainkan oleh terjadinya dikotomi antara ilmu-ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern. Berdasarkan pemikiran ulama Turki Badiuzzaman Said Nursi, pendidikan ideal harus mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan, keimanan, moral, serta pembentukan karakter dalam satu sistem pendidikan yang utuh.
Menurutnya, konsep Medresetü’z Zehra yang digagas Said Nursi menawarkan model pendidikan integratif yang menyatukan ilmu agama, ilmu sains, dan spiritualitas sehingga mampu melahirkan generasi yang unggul secara intelektual sekaligus memiliki integritas moral. Materi tersebut juga menekankan pentingnya pengembangan kurikulum transdisipliner, penguatan karakter, serta kolaborasi internasional dalam membangun pendidikan Islam yang relevan dengan tantangan abad ke-21.
Melalui penyelenggaraan ICISSH 2026, UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu kembali menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi Islam yang aktif membangun jejaring akademik global, mendorong kolaborasi internasional, serta menghadirkan ruang dialog ilmiah yang mampu menjawab tantangan perkembangan ilmu pengetahuan, transformasi sosial, dan peradaban manusia di era digital.

