UINFASBengkulu – Data pilah gender bukan sekadar kumpulan angka, tetapi menjadi fondasi penting dalam membaca kondisi perguruan tinggi secara objektif sekaligus menjadi dasar penyusunan kebijakan yang inklusif, adil, dan responsif gender. Hal tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam kegiatan Diseminasi Profil Gender: Pengembangan PTKI Berbasis Profil Gender yang diselenggarakan UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Jumat (7/8/2026).

Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting tersebut menghadirkan sejumlah pakar dan praktisi di bidang perencanaan serta pengarusutamaan gender. Narasumber yang hadir, yakni Agus Hamdani, M.H., Perencana Ahli Madya Biro Perencanaan dan Penganggaran, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama RI; Prof. Dr. Mufliha Wijayati, M.Si., dari Aliansi PTRG sekaligus Dosen UIN Jurai Siwo Metro Lampung; serta Dr. Ahmad Syarifin, M.Ag., Kepala Pusat Literasi Keagamaan dan Gender (PLKG) UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu sekaligus Sekretaris Forum PLKG PTKI.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Dr. Rini Fitria, M.Si., dalam sambutannya menekankan pentingnya data gender sebagai bagian dari penguatan tata kelola perguruan tinggi.

“Profil gender harus kita tempatkan sebagai instrumen untuk membaca kondisi sivitas akademika secara lebih utuh. Data yang tersedia tidak berhenti sebagai dokumentasi, tetapi harus menjadi dasar dalam merancang program, menentukan prioritas, serta memastikan kebijakan perguruan tinggi memberikan manfaat yang adil bagi seluruh sivitas akademika,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan profil gender juga sejalan dengan komitmen UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu dalam membangun lingkungan akademik yang aman, inklusif, dan berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala PLKG UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Dr. Ahmad Syarifin, M.Ag., menjelaskan bahwa penyusunan profil gender merupakan langkah strategis untuk mengetahui kondisi nyata perguruan tinggi berdasarkan data terpilah.
“Data pilah gender memberikan gambaran tentang siapa yang memiliki akses, siapa yang berpartisipasi, siapa yang terlibat dalam pengambilan keputusan, serta siapa yang masih menghadapi hambatan. Karena itu, data tersebut harus dibaca dan dianalisis agar dapat melahirkan kebijakan yang tepat sasaran,” jelasnya.
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Mufliha Wijayati, M.Si., menegaskan bahwa profil gender tidak sekadar data pilah, tetapi merupakan gambaran kondisi perguruan tinggi yang dapat digunakan sebagai baseline dalam pengelolaan dan penyusunan kebijakan.
Ia menjelaskan, proses tersebut dapat dimulai dari data pilah untuk mengetahui apa dan berapa jumlahnya, dilanjutkan dengan profil gender untuk membaca pola kesenjangan, analisis gender untuk mengetahui penyebab kesenjangan, hingga penyusunan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) sebagai bentuk intervensi kebijakan.
Profil gender membantu institusi melihat kondisi secara lebih menyeluruh, bukan hanya dari sisi jumlah, tetapi juga representasi, partisipasi, akses, kontrol, dan manfaat yang diterima sivitas akademika.
Lebih lanjut, Prof. Mufliha menyebutkan bahwa profil gender penting untuk mendukung kebijakan berbasis bukti, menemukan blind spot, memastikan anggaran lebih tepat sasaran, memperkuat akuntabilitas, serta menjadi dasar Pengarusutamaan Gender (PUG) dan Perguruan Tinggi Responsif Gender (PTRG).
Dalam konteks perguruan tinggi, profil gender dapat mencakup berbagai aspek, mulai dari sumber daya manusia, tata kelola dan kepemimpinan, pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan karier akademik, hingga kampus yang aman dan inklusif. Aspek sarana dan prasarana juga menjadi bagian penting, seperti ketersediaan ruang laktasi, daycare, toilet inklusif, akses bagi penyandang disabilitas, pencahayaan, CCTV, serta ruang konseling yang menjamin privasi.
Data yang dikumpulkan perlu diarahkan untuk menghasilkan analisis yang lebih bermakna. Dengan demikian, profil gender tidak berhenti pada penyajian persentase, tetapi mampu menunjukkan representasi dan partisipasi, kebutuhan peningkatan kapasitas, serta peluang penyusunan program afirmasi, termasuk dalam bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Sementara itu, Agus Hamdani, M.H., selaku Perencana Ahli Madya pada Biro Perencanaan dan Penganggaran Sekretariat Jenderal Kementerian Agama RI, turut memberikan perspektif mengenai pentingnya integrasi profil gender dalam perencanaan perguruan tinggi. Materi yang disampaikan menempatkan perencanaan berbasis profil gender sebagai bagian dari upaya memperkuat kebijakan dan kinerja kelembagaan.
Kegiatan tersebut dimoderatori oleh Dita Lestari, M.Psi., Psikolog, dari Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu.
Melalui kegiatan ini, UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu terus mendorong agar data gender tidak berhenti sebagai dokumen administratif. Data tersebut diharapkan dapat diolah menjadi informasi strategis yang mendukung perencanaan, penganggaran, pengambilan keputusan, serta pengembangan program perguruan tinggi yang lebih inklusif dan responsif gender.
Dengan demikian, profil gender dapat menjadi cermin bagi institusi untuk melihat kesenjangan, menentukan intervensi, serta memastikan setiap sivitas akademika memperoleh kesempatan yang setara untuk berpartisipasi, berkembang, dan berkontribusi dalam kehidupan perguruan tinggi.

