You are currently viewing UIN FAS Bengkulu Tutup Pelatihan Kepemimpinan Ulama Perempuan, Perkuat Budaya Menulis dari Perspektif Perempuan

UIN FAS Bengkulu Tutup Pelatihan Kepemimpinan Ulama Perempuan, Perkuat Budaya Menulis dari Perspektif Perempuan

UINFASBengkulu — Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu resmi menutup Pelatihan Kepemimpinan Ulama Perempuan bersama Perkumpulan ALIMAT di Gedung Student Center UIN FAS Bengkulu, Jumat (23/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas diri perempuan, memperkuat kapasitas kepemimpinan, serta mendorong kemampuan menulis yang mampu mengangkat pengalaman dan perspektif perempuan.

Penutupan kegiatan dilakukan oleh Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN FAS Bengkulu, Dr. Rini Fitria, M.Si. Dalam penyampaiannya, ia menegaskan bahwa pelatihan tersebut merupakan bentuk peningkatan mutu dan kualitas diri perempuan agar mampu menghadapi perkembangan zaman.

Menurut Rini, perempuan perlu terus mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan berpikir kritis agar dapat mengambil peran strategis, baik dalam keluarga maupun masyarakat. Ia juga mengapresiasi semangat peserta yang mampu menyusun jurnal dan artikel dalam waktu sekitar 30 menit sebagai bentuk produktivitas dan kemampuan mengembangkan gagasan.

“Pelatihan ini merupakan bentuk peningkatan mutu dan kualitas diri perempuan dalam menghadapi perkembangan zaman. Kami mengapresiasi para peserta yang mampu menyusun jurnal dan artikel dalam waktu 30 menit. Ini menunjukkan semangat dan potensi perempuan untuk terus belajar, mengembangkan diri, serta menghasilkan karya,” ungkap Rini.

Salah satu materi yang menjadi bagian penting dalam pelatihan ini adalah *Menulis Khas Perempuan dan Mengembangkan Naskah Reflektif*, yang disampaikan oleh Prof. Alimatul Qibtiyah, Ph.D. Materi tersebut membahas pentingnya menulis dari perspektif perempuan, menggali pengalaman yang kerap terpinggirkan, serta mengembangkan tulisan yang dapat memperluas pemahaman masyarakat terhadap isu gender dan keadilan.

Dalam materi tersebut, peserta diajak memahami bahwa tulisan dengan perspektif perempuan tidak hanya menjadi sarana untuk menyampaikan pengalaman, tetapi juga dapat membangun empati, memperkuat solidaritas, memberdayakan penulis dan pembaca, serta mendorong kesadaran sosial. Pengalaman perempuan dari berbagai latar belakang perlu dihadirkan agar suara dan kontribusi mereka mendapat ruang dalam narasi publik.

Peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai teknik penulisan *feature*, mulai dari menggali ide, menentukan sudut pandang, menyusun teras atau *lead* yang menarik, mengembangkan alur cerita, hingga melakukan pemeriksaan ulang sebelum tulisan dipublikasikan. Materi ini menekankan pentingnya penggunaan bahasa yang sederhana, komunikatif, sesuai kaidah bahasa Indonesia, serta didukung data dan fakta yang akurat.

Pelatihan yang berlangsung pada 21–23 Oktober 2026 ini berfokus pada penguatan kapasitas kepemimpinan ulama perempuan, pemahaman sejarah dan perkembangan gerakan ulama perempuan di Indonesia, serta pengembangan jejaring berbasis keadilan gender dan kemaslahatan perempuan dan anak. Peserta juga didorong menyusun rencana tindak lanjut yang konkret dan menghasilkan tulisan populer mengenai isu perempuan.

Melalui kolaborasi dengan Perkumpulan ALIMAT, UIN FAS Bengkulu berharap kegiatan ini tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan selama pelatihan, tetapi berlanjut menjadi karya dan gerakan nyata di tengah masyarakat. Kemampuan menulis diharapkan dapat menjadi sarana bagi perempuan untuk menyuarakan pengalaman, menyampaikan gagasan, serta berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih adil dan inklusif.

Penutupan pelatihan ini sekaligus menegaskan komitmen UIN FAS Bengkulu dalam mendukung pemberdayaan perempuan melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan kapasitas kepemimpinan dan keterampilan menulis yang semakin kuat, para peserta diharapkan mampu menjadi penggerak perubahan serta memperluas kontribusi ulama perempuan bagi kemaslahatan masyarakat.