UIN FAS Bengkulu – Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu berpartisipasi aktif sebagai delegasi dalam Halaqah Qubra Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) yang mengusung tema “Membumikan Spirit Keulamaan Perempuan untuk Peradaban Islam yang Ma’ruf, Mubadalah, dan Berkeadilan Hakiki.” Kegiatan ini berlangsung pada 12–14 Desember 2025 di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Halaqah Qubra KUPI merupakan forum strategis nasional yang bertujuan untuk mengkonsolidasikan sistem pengetahuan, otoritas, serta ekosistem gerakan keulamaan perempuan Indonesia sesuai visi dan misi KUPI 2023–2028. Selain itu, forum ini juga menjadi ruang refleksi atas capaian dan tantangan gerakan pasca Kongres KUPI ke-II di Jepara tahun 2022, sekaligus menyiapkan arah, tema, dan rancangan fatwa Musyawarah Keagamaan KUPI ke-3 tahun 2027 agar responsif terhadap dinamika sosial, politik, keumatan, dan kebangsaan.
Kegiatan ini dihadiri lebih dari 400 peserta yang berasal dari jaringan KUPI nasional dan internasional, meliputi unsur Alimat, Muslimat, Gusdurian, Fahmina, majelis taklim, pondok pesantren, perguruan tinggi, pegiat HAM perempuan dan anak, hingga komunitas disabilitas. Rangkaian acara dikemas dalam bentuk dialog publik dan diskusi kelompok yang membahas sejarah gerakan keulamaan perempuan, capaian dan tantangan gerakan, peran generasi muda, hingga interaksi ulama perempuan dengan ruang digital dan isu lingkungan serta pembumian perspektif anti kekerasan dalam konteks keindonesiaan.
Melalui diskusi kelompok, peserta memperdalam analisis atas realitas sosial, politik, dan keagamaan mutakhir, sekaligus mengonsolidasikan basis teologis dan praksis gerakan agar tetap relevan dan kontekstual. Forum ini juga menghadirkan sesi refleksi nasional yang melibatkan Dewan Pertimbangan, Majelis Musyawarah, serta perwakilan jaringan ulama perempuan lintas daerah dan generasi. Sesi ini bertujuan memproyeksikan kebutuhan gerakan dan merumuskan usulan pandangan keagamaan yang akan diputuskan pada Musyawarah Keagamaan KUPI di Kongres ke-3 tahun 2027 mendatang.
Dalam forum tersebut, Ahmad Syarifin, selaku representasi Pusat Studi Gender dan Anak PTKI, menjadi delegasi Halaqah Qubra KUPI dan turut terlibat dalam ruang refleksi penguatan otoritas ulama perempuan. Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi merupakan salah satu ruang juang dan ruang khidmah penting bagi ulama perempuan.
“Gerakan ulama perempuan memiliki akar kuat pada kultur gerakan PSGA sebagai leading sector pengarusutamaan gender di perguruan tinggi. Kesejarahan PSGA menunjukkan bahwa ulama perempuan sejatinya memiliki otoritas yang kuat. PSGA lahir bukan semata karena dorongan struktural, tetapi dari gerakan kultural, kepekaan sosial, dan komitmen memperjuangkan kesetaraan serta keadilan,” ujarnya.
Menurutnya, ruang refleksi dalam Halaqah Qubra ini semakin menegaskan urgensi penguatan otoritas keulamaan perempuan di lingkungan perguruan tinggi. “Bukan untuk merebut ruang juang, melainkan menghadirkan dimensi dan cara pandang baru dalam membangun perguruan tinggi yang responsif gender, berlandaskan nilai ma’ruf, mubadalah, dan berkeadilan hakiki,” tutup Ahmad Syarifin.
Partisipasi PSGA UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu dalam Halaqah Qubra KUPI ini menjadi wujud nyata komitmen kampus dalam mendukung gerakan keulamaan perempuan serta penguatan nilai keadilan gender dalam kehidupan akademik, keagamaan, dan kebangsaan.


