UINFASBengkulu — Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) terus memperkuat peran strategisnya dalam pengembangan isu lingkungan berbasis nilai keagamaan. Hal tersebut diwujudkan melalui pertemuan strategis antara Kepala PSLH UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu dengan jajaran Kementerian Agama (Kemenag) Kota Bengkulu dalam rangka memperkuat sinergi pelaksanaan program ekoteologi.

Pertemuan ini berlangsung pada Rabu, 14 Januari 2025, bertempat di Kantor Kementerian Agama Kota Bengkulu. Kepala PSLH UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Fadilah, S.Si., M.Si., C.EIA., C.TL., C.PS., hadir bersama unsur penyuluh agama untuk membahas penguatan kolaborasi program ekoteologi yang sejalan dengan kebijakan Kementerian Agama dan Pemerintah Daerah Kota Bengkulu.
Hadir dalam pertemuan tersebut Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bengkulu, Dr. H. Nopian Gustari, S.Pd.I., M.Pd.I., serta Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Penyuluh Agama Islam Kemenag Kota Bengkulu, Elly Agustina, S.Sos.I., M.TPd. Diskusi berlangsung konstruktif dengan fokus utama pada upaya membumikan konsep ekoteologi sebagai gerakan nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Dalam paparannya, Fadilah menegaskan bahwa ekoteologi tidak cukup berhenti pada tataran wacana, melainkan harus diimplementasikan secara konkret melalui pendekatan ilmiah, keagamaan, dan kebijakan publik yang terintegrasi. Ia menyampaikan kesiapan PSLH UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu untuk berkontribusi melalui kegiatan riset, pendampingan program, serta penguatan kapasitas masyarakat dan para pemangku kepentingan.
“Kerja besar membutuhkan sinergi. Akademisi menghadirkan basis keilmuan dan metodologi, praktisi agama menguatkan nilai dan kesadaran spiritual, sementara pemerintah berperan sebagai penggerak kebijakan. Ketiganya harus berjalan bersama agar ekoteologi benar-benar membumi dan berdampak,” ujar Fadilah.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bengkulu, Dr. H. Nopian Gustari, menegaskan bahwa program ekoteologi merupakan agenda strategis Kementerian Agama yang harus dijalankan secara terencana, terukur, dan berkelanjutan. Menurutnya, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada kolaborasi yang kuat antara perguruan tinggi, penyuluh agama, dan pemerintah daerah.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan kalangan akademisi untuk memastikan program ekoteologi memiliki dasar ilmiah yang kuat sekaligus mampu diterjemahkan ke dalam kebijakan dan praktik keagamaan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Kota Bengkulu.
“Ekoteologi bukan sekadar program simbolik, tetapi harus menjadi arah kebijakan dan gerakan bersama. Karena itu, kami memandang penting adanya kerja sama resmi melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu sebagai bentuk komitmen jangka panjang,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Pokja Penyuluh Agama Islam Kemenag Kota Bengkulu, Elly Agustina, menegaskan bahwa penyuluh agama memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan dalam membangun kesadaran ekologis berbasis nilai keagamaan. Menurutnya, konsep ekoteologi harus diterjemahkan ke dalam pesan-pesan keagamaan yang konkret, operasional, dan dekat dengan praktik kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Penyuluh agama bukan sekadar penyampai ceramah, tetapi agen transformasi nilai. Ekoteologi harus hadir dalam bahasa yang dipahami umat, diwujudkan dalam tindakan nyata, dan terinternalisasi dalam perilaku keagamaan masyarakat,” ungkapnya.
Melalui pertemuan ini, PSLH UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu menegaskan komitmennya untuk menjadi mitra strategis Kementerian Agama dan Pemerintah Daerah Kota Bengkulu dalam pengembangan program ekoteologi. Sinergi lintas sektor ini diharapkan menjadi fondasi kuat dalam membangun kesadaran ekologis masyarakat Kota Bengkulu yang berlandaskan nilai keislaman, keilmuan, dan kebijakan publik yang berkelanjutan.
