You are currently viewing LPPM, LPM, dan PLKG Perkuat Wawasan Akademik dan Wujudkan Kampus Bebas Kekerasan pada PBAK Hari Kedua UIN FAS Bengkulu

LPPM, LPM, dan PLKG Perkuat Wawasan Akademik dan Wujudkan Kampus Bebas Kekerasan pada PBAK Hari Kedua UIN FAS Bengkulu

UINFASBengkulu — Hari kedua Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Fatmawati Sukarno (UIN FAS) Bengkulu tahun 2026 diisi dengan penguatan wawasan akademik, budaya mutu, serta edukasi tentang pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan kampus. Kegiatan berlangsung di Gedung Kuliah Terpadu UIN FAS Bengkulu, Rabu (19/8/2026).

Rangkaian kegiatan diawali dengan pemaparan materi dari jajaran pimpinan fakultas dan dilanjutkan dengan sosialisasi dari sejumlah unit serta lembaga strategis universitas. Sesi tersebut menghadirkan Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN FAS Bengkulu, Dr. Rini Fitria, M.Si., Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), Dr. Robeet Thadi, S.Sos., M.Si., serta Ketua Pusat Layanan Konseling dan Gender (PLKG), Ahmad Syarifin.

Ketiga pemateri memberikan pembekalan kepada mahasiswa baru mengenai pentingnya keterlibatan dalam Tridarma Perguruan Tinggi, penerapan budaya mutu, serta penciptaan lingkungan kampus yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.

Ketua LPPM UIN FAS Bengkulu, Dr. Rini Fitria, M.Si., dalam pemaparannya menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu menghasilkan karya yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Mahasiswa tidak hanya dituntut unggul di dalam ruang kelas, tetapi juga harus mampu melahirkan karya inovatif dan berkontribusi nyata bagi masyarakat melalui kegiatan penelitian dan pengabdian. LPPM siap memfasilitasi serta mendampingi mahasiswa untuk berkembang menjadi insan akademis yang berdampak luas,” ujar Dr. Rini Fitria, M.Si.

Ia mendorong mahasiswa baru untuk mulai membangun budaya akademik yang aktif, kreatif, dan produktif sejak awal masa perkuliahan. Keterlibatan dalam penelitian dan pengabdian dinilai dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi sekaligus mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah.

Sementara itu, Ketua LPM UIN FAS Bengkulu, Dr. Robeet Thadi, S.Sos., M.Si., memaparkan pentingnya budaya mutu dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan tinggi yang berkualitas. Ia menjelaskan bahwa mutu bukan sekadar pemenuhan administrasi, tetapi harus menjadi bagian dari budaya seluruh sivitas akademika.

UIN FAS Bengkulu, lanjutnya, telah meraih predikat Akreditasi Institusi Unggul dari BAN-PT serta sertifikasi internasional ISO 21001:2018. Capaian tersebut menjadi bagian dari komitmen universitas untuk terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan dan pengelolaan perguruan tinggi.

“Budaya mutu bukanlah sekadar dokumen di atas kertas, melainkan karakter dan kebiasaan akademik yang wajib kita jaga bersama. Dengan raihan akreditasi institusi Unggul dan sertifikasi ISO 21001:2018, kami memastikan setiap mahasiswa memperoleh proses pembelajaran yang terstandardisasi, berdaya saing global, dan membawa maslahat,” tegas Dr. Robeet Thadi, S.Sos., M.Si.

Ia juga mengingatkan mahasiswa bahwa mereka memiliki peran penting dalam mendukung pelaksanaan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), antara lain melalui partisipasi dalam pengisian Evaluasi Dosen oleh Mahasiswa (EDOM) dan survei layanan kemahasiswaan.

PLKG Sosialisasikan Kampus Bebas Kekerasan

Pada sesi berikutnya, Ketua Pusat Layanan Konseling dan Gender (PLKG) UIN FAS Bengkulu, Ahmad Syarifin, menyampaikan materi mengenai Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) serta kampanye Kampus Bebas Kekerasan.

Ia menegaskan bahwa seluruh mahasiswa memiliki hak untuk memperoleh lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, bermartabat, dan bebas dari kekerasan maupun diskriminasi. Prinsip Peduli, Melindungi, dan Mendampingi menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan kampus yang aman dan inklusif.

“Jika Anda mengalami atau mengetahui tindakan kekerasan, pelecehan seksual, maupun diskriminasi, jangan diam—laporkan. Identitas pelapor dan korban dijamin serta dirahasiakan. Bersama-sama, kita wujudkan kampus yang aman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan,” tegas Ahmad Syarifin.

Dalam sosialisasi tersebut, mahasiswa baru juga diperkenalkan dengan sejumlah kanal pengaduan yang dapat digunakan ketika mengalami atau mengetahui dugaan kekerasan maupun membutuhkan pendampingan.

Kanal pengaduan tersebut meliputi Satgas PPKS UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu melalui WhatsApp 0822-8215-2205 dan 0812-7133-7408; SAPA 129 melalui hotline 129 atau WhatsApp 0811-1129-129; serta Unit PPA Polda Bengkulu melalui WhatsApp 0851-1744-2520.

Sebagai penutup sesi, mahasiswa baru mengikuti pembacaan dan penyampaian poin Deklarasi Mahasiswa Anti-Kekerasan UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. Deklarasi tersebut menjadi komitmen bersama untuk menolak segala bentuk kekerasan, melindungi korban, mendukung penanganan terhadap pelaku sesuai ketentuan, serta menjaga keamanan dan kenyamanan lingkungan kampus.

Rangkaian PBAK hari kedua berlangsung interaktif dan kondusif. Pembekalan yang diberikan LPPM, LPM, dan PLKG menjadi bagian penting dalam memperkenalkan kehidupan akademik kepada mahasiswa baru, sekaligus menanamkan kesadaran tentang pentingnya budaya mutu, kepedulian sosial, serta penghormatan terhadap hak dan martabat setiap warga kampus.

Melalui kegiatan tersebut, UIN FAS Bengkulu tidak hanya mempersiapkan mahasiswa baru untuk menjalani proses perkuliahan, tetapi juga membangun karakter mahasiswa yang aktif dalam Tridarma Perguruan Tinggi, menjunjung budaya mutu, serta bersama-sama menciptakan kampus yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan.