UINFASBengkulu — Hari kedua Pelatihan Kepemimpinan Perempuan Seri Penyebar yang diselenggarakan oleh UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu mengangkat tema “Memperkuat Kepemimpinan Ulama Perempuan untuk Memperluas Gerakan Keadilan dan Kemaslahatan di Ruang Khidmah.” Pada sesi ini, peserta diajak memahami cara kerja Kepemimpinan Ulama Perempuan (KUPI) melalui tiga pokok pembahasan utama, yaitu Trilogi KUPI, anatomi gerakan, dan kepemimpinan KUPI.

Pembahasan mengenai Trilogi KUPI menjadi salah satu fondasi penting dalam pelatihan. Trilogi tersebut meliputi Ma’ruf, Mubadalah, dan Keadilan Hakiki Perempuan. Dalam materi Sistem Pengetahuan Keislaman KUPI, Ma’ruf ditempatkan sebagai fondasi, Mubadalah sebagai strategi dalam produksi pengetahuan dan transformasi sosial, sedangkan Keadilan Hakiki Perempuan menjadi tujuan dari proses produksi pengetahuan dan transformasi sosial.
Melalui perspektif tersebut, peserta diajak melihat persoalan keislaman dan kehidupan sosial secara lebih utuh dengan menempatkan laki-laki dan perempuan sebagai subjek penuh dan manusia yang utuh. Materi KUPI juga menekankan pentingnya menghadirkan kemaslahatan dan keadilan sebagai bagian dari upaya membangun kehidupan yang lebih baik bagi semua.


Selain Trilogi KUPI, sesi kedua membahas anatomi gerakan dengan menggunakan analogi anatomi tubuh manusia. Gerakan KUPI dibayangkan sebagai sebuah sistem yang terdiri atas berbagai elemen yang saling terhubung dan memiliki fungsi masing-masing.
Dalam gambaran tersebut, terdapat sejumlah sistem yang menjadi bagian dari anatomi gerakan, antara lain sistem pancaindra manusia, sistem pencernaan, sistem peredaran darah, sistem reproduksi, serta sistem otot kaki dan tangan. Setiap sistem memiliki fungsi spesifik, tetapi tidak bekerja sendiri. Keseluruhan sistem harus saling terhubung dan bekerja sama agar tubuh dapat menjalankan fungsinya secara optimal.
Analogi tersebut digunakan untuk membangun imajinasi kolektif bahwa KUPI juga merupakan sebuah gerakan yang memiliki elemen, fungsi, serta hubungan antarelemen. Dengan demikian, peserta tidak hanya memahami organisasi sebagai struktur kelembagaan, tetapi juga memahami gerakan sebagai sebuah ekosistem yang dinamis dan saling terhubung.
Pembahasan anatomi gerakan juga mengajak peserta melihat bagaimana sebuah gerakan memperoleh energi, mempertahankan keseimbangan, serta terus bertumbuh. Layaknya metabolisme dalam tubuh manusia yang mengolah asupan menjadi energi untuk bergerak, berpikir, tumbuh, dan memperbaiki jaringan, gerakan sosial membutuhkan pengetahuan, pengalaman, sumber daya, serta kerja sama berbagai elemen agar tetap hidup dan berkembang.
Materi kemudian diarahkan pada pembahasan kepemimpinan KUPI. Kepemimpinan tidak dipahami semata-mata sebagai kemampuan individu untuk memimpin, tetapi sebagai bagian dari sistem gerakan yang bertujuan menghadirkan keadilan dan kemaslahatan.
Perspektif ini sejalan dengan kerangka pengetahuan KUPI yang menempatkan Keadilan Hakiki Perempuan sebagai tujuan, Mubadalah sebagai strategi, dan Ma’ruf sebagai fondasi sistem pengetahuan serta gerakan KUPI.
Materi juga menekankan pentingnya melihat pengalaman perempuan, baik pengalaman biologis maupun pengalaman sosial. Pengalaman biologis perempuan seperti menstruasi, kehamilan, melahirkan, nifas, dan menyusui dipandang sebagai pengalaman yang perlu diakui. Sementara itu, berbagai pengalaman sosial seperti stigmatisasi, marginalisasi, subordinasi, kekerasan, dan beban ganda perlu mendapatkan perhatian dalam upaya mewujudkan keadilan hakiki perempuan.
Melalui sesi ini, peserta diharapkan mampu memahami bahwa gerakan keadilan dan kemaslahatan membutuhkan kerja bersama berbagai unsur. Kepemimpinan ulama perempuan tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem gerakan yang saling mendukung, berbagi peran, memproduksi pengetahuan, dan mendorong transformasi sosial.
Pelatihan ini pada akhirnya diarahkan untuk memperkuat kapasitas peserta dalam membaca persoalan, membangun pengetahuan, serta menjalankan kepemimpinan yang berorientasi pada kemaslahatan dan keadilan. Dengan memahami cara kerja KUPI melalui Trilogi KUPI, anatomi gerakan, dan kepemimpinan KUPI, peserta diharapkan mampu memperluas gerakan keadilan dan kemaslahatan di berbagai ruang khidmah.

