UINFASBengkulu – Pusat Moderasi Beragama Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu menggelar Seminar Nasional Moderasi Beragama dengan tema “Meneguhkan Identitas Keislaman di Tengah Keberagaman”. Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung Auditorium UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu dan dihadiri oleh sivitas akademika serta mahasiswa.

Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Rektor II UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Prof. Dr. KH. Zulkarnain, M.Pd, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Prof. Dr. Suhirman, M.Pd, Wakil Rektor III Dr. Fatimah, MA, serta Ketua Pusat Moderasi Beragama UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Dr. Fatrica Syafri, M.Pd.I.
Seminar nasional ini menghadirkan Angelina Sondakh sebagai narasumber utama yang membahas berbagai perspektif mengenai pentingnya moderasi beragama serta penguatan identitas keislaman dalam kehidupan masyarakat yang majemuk.


Wakil Rektor II UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Prof. Dr. KH. Zulkarnain, M.Pd, dalam sambutannya berharap kegiatan ini dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada mahasiswa mengenai nilai-nilai Islam yang moderat.
“Melalui kegiatan ini saya berharap mahasiswa dapat meningkatkan pengetahuan tentang Islam sekaligus memperkuat keimanan, salah satunya dengan membiasakan diri dekat dengan Al-Qur’an dan menjadi generasi penghafal Al-Qur’an,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala LPPM UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Prof. Dr. Suhirman, M.Pd, menekankan bahwa moderasi beragama menjadi salah satu kunci dalam menjaga kedamaian di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya di Indonesia.
“Indonesia merupakan negara yang sangat majemuk. Oleh karena itu, moderasi beragama sangat penting untuk terus diperkuat agar potensi konflik yang berkaitan dengan perbedaan agama dapat diminimalkan. Kegiatan seperti seminar ini menjadi sarana edukasi yang sangat penting bagi generasi muda,” jelasnya.
Dalam pemaparannya, Angelina Sondakh menyampaikan bahwa dunia saat ini semakin terbuka dan luas, namun dalam banyak hal justru mengalami pengkotak-kotakan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam cara pandang masyarakat.
“Dunia ini sebenarnya luas, tetapi sering kali kita sendiri yang membuatnya seolah-olah terkotak-kotak karena perbedaan pandangan, latar belakang, maupun kepentingan,” ungkapnya.
Ia juga membagikan pengalaman hidupnya, baik saat berkecimpung di dunia politik maupun dalam perjalanan spiritual yang membawanya lebih mendalami nilai-nilai keagamaan.
Selain itu, Angelina Sondakh turut menyoroti fenomena sosial di masyarakat yang cenderung memandang profesi tertentu lebih bergengsi dibandingkan profesi lain, seperti petani dan nelayan, padahal Indonesia memiliki potensi alam yang sangat luas.
“Banyak masyarakat yang lebih memilih menjadi ASN, politisi, atau pejabat, sementara profesi seperti petani dan nelayan kurang diminati. Padahal potensi sumber daya alam Indonesia sangat besar dan perlu dikelola dengan baik,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa pada dasarnya seluruh agama mengajarkan nilai-nilai kebaikan. Namun, terkadang konflik muncul karena kurangnya pemahaman dan pengamalan ajaran agama secara benar.
“Semua agama mengajarkan kebaikan. Yang sering menjadi persoalan adalah ketika pengikutnya tidak mempelajari atau tidak menjalankan ajaran tersebut dengan baik,” tambahnya.
Melalui kegiatan seminar nasional ini, diharapkan mahasiswa UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu dapat semakin memahami pentingnya moderasi beragama serta mampu menjadi generasi yang menjaga harmoni, toleransi, dan kedamaian di tengah masyarakat yang beragam.

