UINFASBengkulu – Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno (UIN FAS) Bengkulu melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) memperkuat kolaborasi dalam mendukung upaya rehabilitasi dan pelestarian ekosistem mangrove di Provinsi Bengkulu. Komitmen tersebut diwujudkan melalui keterlibatan UIN FAS dalam Pengesahan Rancangan Teknis Penanaman Mangrove Tahun 2026 dan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) bersama Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) Provinsi Bengkulu.

Kegiatan tersebut berlangsung di Hotel Santika, Kota Bengkulu, Jumat (2/10/2026), dan diselenggarakan oleh KKMD Provinsi Bengkulu sebagai bagian dari dukungan terhadap Program RBP REDD+ GCF Output 2 Provinsi Bengkulu.
UIN FAS Bengkulu hadir melalui Ketua LPPM, Dr. Rini Fitria, S.Ag., M.Si., Kepala Pusat Lingkungan Hidup (PLH) LPPM, Fadilah, S.Si., M.Si., bersama tim LPPM dan bagian kerja sama.
Salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut adalah penandatanganan PKS antara KKMD Provinsi Bengkulu dengan sejumlah perguruan tinggi, termasuk LPPM UIN FAS Bengkulu, serta pembahasan dan pengesahan Rancangan Teknis Penanaman Mangrove Tahun 2026.
Kerja sama ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pemangku kepentingan dalam mendukung rehabilitasi kawasan mangrove di Provinsi Bengkulu. Keterlibatan perguruan tinggi juga diharapkan dapat memberikan kontribusi melalui penelitian, pengabdian kepada masyarakat, edukasi, serta pendampingan yang mendukung keberlanjutan program.
Ketua LPPM UIN FAS Bengkulu, Dr. Rini Fitria, S.Ag., M.Si., menyampaikan bahwa kerja sama tersebut menjadi ruang bagi perguruan tinggi untuk berkontribusi secara nyata dalam upaya perlindungan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Sementara itu, Kepala PLH LPPM UIN FAS Bengkulu, Fadilah, S.Si., M.Si., menegaskan bahwa rehabilitasi mangrove membutuhkan perencanaan dan pengelolaan yang berkelanjutan. Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga oleh kesesuaian lokasi, jenis tanaman, pemeliharaan, keterlibatan masyarakat, serta monitoring dan evaluasi.
“Keberhasilan rehabilitasi mangrove bukan hanya dilihat dari berapa banyak bibit yang ditanam, tetapi bagaimana mangrove tersebut mampu tumbuh, bertahan, dan mengembalikan fungsi ekologis kawasan pesisir secara berkelanjutan,” ungkap Fadilah.
Melalui kerja sama tersebut, UIN FAS Bengkulu turut memperkuat pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang berkaitan dengan isu lingkungan dan keberlanjutan kawasan pesisir.
Ke depan, keterlibatan UIN FAS diharapkan dapat membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dalam penelitian, pendidikan lingkungan, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan pengetahuan mengenai ekosistem mangrove.
Sinergi antara KKMD, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Bengkulu, perguruan tinggi, dan berbagai pihak terkait diharapkan mampu mendukung pelaksanaan rehabilitasi mangrove yang terencana dan berkelanjutan, sekaligus memberikan manfaat bagi kelestarian ekosistem pesisir dan masyarakat di Provinsi Bengkulu.

