Selama dua hari Senin-Selasa 11-12 Mei 2026, Unit Layanan Disabilitas , PSGA UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. Melakukan kegiatan Focus Group Discussion dan penguatan kapasitas bagi pengurus ULD.
Kegiatan ini bertujuan memperkuat perspektif dan memahami secara konseptuan dan kontekstual tentang kedisabilitasan. Meneguhkan kembali komitmen ULD sebagai leading sektor dalam mewujudkan perguruan tinggi inklusif.
Sebagai mitra kegiatan ini hadir tim ahli Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ro’fah, Ph.D dan Suharto, Ph.D. Ro’fah menyampaikan bahwa paradigma pendidikan sudah berkembang dan semakin maju. Hal ini menuntut perguruan tinggi untuk beradaptasi dalam segala aspek. Tidak hanya dharma penelitian atau pengabdian, melainkan pada pendidikan dan pengajaran, termasuk layanan. Terlebih lagi jika dikaitkan dengan perguruan tinggi inklusif.

Ahmad Syarifin, kepala PSGA menyampaikan, kegiatan ini bentuk komitmen PSGA untuk mewujudkan perguruan tinggi inklusif. Beberapa catatan penting menjadi perhatian adalah. Komitmen pimpinan dan civitas akademika terhadap inklusifitas menjadi syarat awal. Kemudian menata ulang otoritas kelembagaan Unit Layanan Disabilitas. Secara kelembagaan ULD memiliki peran strategis untuk mewujudkan perguruan tinggi inklusif, untuk itu penting bagi perguruan tinggi menjadikan ULD sebagai mitra dalam pengembangan, pembuatan renstra dan perencanaan penganggaran serta akademik.

Wakil Rektor 1, Prof. Dr. Asnaini, MA., menegaskan bahwa secara kelembagaan UIN FAS Bengkulu memiliki komitmen yang kuat untuk mewujudkan perguruan tinggi inklusif. Sasaran program pengembangan ULD secara tegas tertulis dalam renstra rektor tahun 2025-2029. Dalam pratiknya UIN FAS terus mengembangkan sarana dan kebutuhan mahasiswa difabel. Tidak hanya fisik namun juga untuk pembelajaran. Kami mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh ULD dan PSGA bersama PLD UIN Yogyakarta, harapannya kegiatan ini bisa dikembangkan pada aspek dan bidang lainnya. Ke depan ULD diharapkan menjadi sebuah pusat tersendiri yang tidak hanya melakukan kajian, melainkan memberikan layanan.
Kegiatan ini juga menjadi moment penting karena ULD UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu dan PLD UIN Yogyakarta membuat komitmen bersama dalam bentuk MOU untuk mengembangkan Perguruan tinggi inklusif. Hadir dalam kegiatan pengurus ULD, pelibatan aktif teman-teman difabel lintas fakultas, para relawan dan dosen pengampu mata kuliah afirmatif inklusif, peneliti dan pemerhati isu disabilitas. Kemudian tenaga medis dan admisi universitas hingga fakultas.

